CARI DI BLOG INI

23.1.16

Bayan Masturoh Arahan Menyikapi Sikap Wanita

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Wanita adalah merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Jumlah wanita saat ini lebih banyak dari jumlah laki-laki, dan jumlah anak-anak lebih banyak daripada jumlah wanita saat ini. Jika saat ini kita tidak buat usaha agama atas kaum wanita, maka kita akan kehilangan sebagian besar dari umat ini.

Suasana agama di rumah akan terbentuk apabila fikir wanita sudah berubah menjadi fikir agama. Begitu juga anak-anak kecil akan terdidik dengan agama asbab wanita di rumah yaitu ibunya. Madrasah pertama bagi anak-anak ini ada di pangkuan ibunya. Jika wanita-wanita ini tidak  di didik agama, maka suasana agama tidak akan ada dalam rumah tersebut.

Bahkan anak-anak kecilpun nanti akan jauh dari kehidupan agama. Maka penting dari kaum wanita harus mempunyai kesadaran akan tanggung jawab agama, dan usaha atas agama. Karena itu para karkun lama hendaknya membentuk fikir istrinya untuk ikut ambil bagian dalam kerja ini. Sampai terbentuk dalam diri mereka bahwa suami saya ini adalah da’i Allah, pekerja agama, maka saya harus membantu dia dalam kerja ini.

Karkun dapat bekerja dengan baik dalam amalan ini apabila ditopang oleh istrinya. Oleh karena itu penting sekali membawa istri kita kepada fikir ke arah tersebut. Apabila fikir dan jihin wanita sudah terbentuk maka mereka akan mebuat pengorbanan yang besar dalam kerja dakwah. Apabila fikir agama istri tidak terbentuk maka mereka bisa menjadi penghalang terbesar suami dalam kerja dakwah.

Sudah menjadi fakta dan kenyataan hari ini banyak orang lama, orang kuat, yang terlempar dari usaha ini asbab dari fikir istrinya yang belum terbentuk. Tetapi kalau fikir sudah terbentuk dalam diri kaum wanita maka mereka akan memberikan pengorbanan yang besar dan ikut mendorong suaminya dalam kerja dakwah. Oleh karena itulah dalam usaha dakwah ini bagaimana para wanita dapat di ikut sertakan dan dilibatkan dalam kerja dakwah.

Baginda Rasullullah Saw telah membawa para kaum pria dan wanita untuk terlibat dalam kerja dakwah. Keyakinan yang terbentuk dalam diri para sahabat RA, telah tertanam pula sama dalam diri para Sahabiyah R.ha. Sahabat memberikan pengorbanan begitu juga para sahabiyah, mereka memberikan pengorbanan yang sama seperti para sahabat RA. Jazbah dan semangat yang ada dalam diri para sahabat RA juga wujud dalam diri Sahabiyah R.ha.

Pada waktu itu terbentuk dalam fikir diri wanita bahwa saya hidup dan dilahirkan oleh Allah Swt untuk ikut berjuang bersama Rasullullah Saw. Bagaimana pengorbanan wanita di jaman dahulu ketika suaminya bergerak dijalan Allah, para istri menyibukkan dengan amalan-amalan di rumah. Kefakiran yang datang kedalam kehidupan para sahabiyah asbab suaminya pergi berjuang di jalan Allah, namun mereka tidak menunjukkan kefakirannya tersebut kepada orang-orang pada waktu itu, dan tidak membicarakannya kepada orang lain.

Para sahabat Nabi SAW memberikan pengorbanan dengan pergi ke tempat-tempat jauh, para istrinya, sahabiyah R.ha,  memilih sabar dan tegar, inilah pengorbanan para wanita pada waktu itu. Tidak ada satupun sahabiyah yang ditinggal suaminya fissabillillah, yang mengadukan keadaannya kepada Rasullullah Saw. Mereka sadar bahwa salah satu wujud perjuangan agama ini adalah dengan mendorong para suami untuk pergi berjuang di jalan Allah. Mereka mempunyai keyakinan bahwa mereka dilahirkan untuk membantu kerja agama para suami, sehingga dengan kesadaran mereka gunakan harta mereka untuk mempersiapkan suaminya berjuang di jalan Allah.

Para sahabiyah R.ha, menyadari dengan pengorbanan mereka untuk agama, maka Allah nanti akan memberikan balasan yang baik kepada mereka. Inilah asbab fikir yang sudah terbentuk dalam diri sahabiyah ketika itu, sehingga mereka bisa membuat pengorbanan yang seperti itu. Inilah sebabnya kerja atas wanita itu sangat penting, namun harus dibawa dengan hati-hati dalam pelaksanaannya. Hadratji Innamul Hasan Rah.A katakan :

“Kerja atas wanita ini sangat penting, penting untuk di ikutkan dalam kerja ini, namun harus dibawa dengan sangat hati-hati dalam pelaksanaannya. Harus ada tertib-tertib khusus sebagai batasan dan ushul dalam membuat kerja atas wanita sebagaimana kerja para rijal (laki-laki) untuk menjaga daripada prinsip kehati-hatian tadi.”

Kita harus berjalan dalam kerja atas wanita ini dengan tertib yang benar agar bisa mendatangkan manfaat. Maka untuk perkara ini para karkun harus sering merujuk ke Nizamuddin, datang lagi bertemu dengan para masyeikh, untuk mendapatkan arahan yang betul atas kerja masturoh ini. Inlah nasehat masyeikh kita yang berkaitan dengan kerja masturoh.

Didalam perkembangan usaha dakwah ini saya sering mendengarkan kargozari di awal kita baru keluar :

  •     Pertama keluar 3 hari à perubahan positif, istri masih suka
  •     Keluar 40 hari à Tambah baik perubahannya, istri makin suka
  •     Keluar 4 bulan à Tambah baik lagi masalahnya, istri lebih suka lagi

Namun permasalahan mulai muncul ketika suami keluar tiap tahun 4 bulan lalu mengambil takaza diluar nishob, sehingga waktu di rumah menjadi sangat sedikit sekali, disinilah awal masalah rumah tangga mulai terjadi. Istri mulai keletihan dan merasa terlalu berat harus menghandle urusan rumah sendiri dari menjaga anak, keperluan rumah, menanggung segala penderitaan dan kesusahan ketika suami di jalan Allah.

Inilah sebagian dari sebab-sebab karkun-karkun tidak terus mengambil daripada takaza-takaza agama yang ada. Bahkan sampai ada karkun yang menghadapi masalah rumah tangga yang begitu rupa sehingga si karkun ini kelelahan menghadapinya dari masalah rumah tangga sampai masalah kehidupan lainnya. Makanya penting kita untuk terus bermudzakaroh agar kita bisa membawa kerja ini dengan baik, dan bagaimana pertolongan Allah ada bersama kita.

Sehingga dapat membuka hati kita sendiri, hati istri kita, hati anak-anak kita, dan hati orang-orang yang lain. Sebagaimana sering kita dengarkan sahabat RA dan sahabiyah R.ha, juga menghadapi masalah sama dalam perjuangan, dari masalah ekonomi, masalah keamanan, dan masalah anak, maupun masalah-masalah lainnya. Mereka dihadapkan dengan tantangan yang sama berupa kesusahan-kesusahan kehidupan ketika ditinggal suami-suami mereka dalam perjuangan agama. Namun mereka begitu sabar dalam menghadapi penderitaan tersebut, dan mereka sanggup menanggung segala penderitaan. Mereka tidak mengeluh atas penderitaan mereka, dan mereka tidak mengadu kepada siapapun, selain hanya kepada Allah Swt.

Maksud daripada mudzakaroh kita adalah bagaimana kita membentuk fikir daripada istri kita. Ini karena sudah banyak terjadi asbab tidak terbentuk fikir agama oleh istri kita sehingga kerja agama suami-suami ini jadi terhambat dan terhalang. Jangankan kerja takaza yang jauh-jauh, bahkan untuk kerja maqomi saja juga bisa timbul masalah.

Contoh : jika seseorang bekerja di siang hari sehingga waktu 2.5 jam hanya bisa dilakukan malam hari, ataupun disiang hari tidak ada orang, yang ada malam hari. Tentu agak malam kita bisa lakukan 2.5 jam ini. Maka kerja di malam hari 2.5 jam ini mungkin bisa dengan mendatangi orang-orang yang di waktu malam tidak tidur seperti yang suka nongkrong di pinggir-pinggir jalan di malam hari.

Disitulah kita kerja, kadang-kadang harus pulang larut malam. Inilah yang dimaksud dengan kerja nabi siang dan malam. Nah kalau istri tidak terbentuk fikirnya maka kita akan dianggap hanya mengurusi orang saja, tidak mau ngurusin anak dan istrinya, jarang dirumah, dan lain-lain. Beda jika ketika istri sudah terbentuk fikirnya maka tidak akan ada masalah :

“Abang silahkan keluar di jalan Allah, saya akan di rumah menjaga rumah dan anak-anak. Tidak ada masalah. Saya bersama Allah Swt”

Menghadapi kesusahan-kesusahan dalam hal ekonomi dia, istri, akan sabar, karena ada ta’aluq, hubungan, dengan Allah Swt.

Kisah Sebagaimana Hajar R.ha :

Ketika hajar R.ha bertanya kepada IbrahimAS, “Wahai suamiku mau kemana kita ?” Nabi Ibrahim AS diam saja sampai tiga kali lalu hajar R.ha bertanya, “Apakah ini perintah Allah Swt ?”. Ibrahim AS hanya bisa mengangguk, maka hajar r.ha berkata, “Pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan saya.”

Inilah contoh-contoh istri yang sudah terbentuk fikir agama. Sehingga bukan mengharapkan pertolongan suami, tetapi berharap langsung kepada pertolongan Allah Swt, langsung cash kepada istri itu sendiri. Seperti air zam-zam yang keluar langsung dari telapak kaki ismail AS. Jika istri sudah merasakan pertolongan langsung seperti Hajar R.ha, maka mereka akan mengijinkan keluar kita bukan saja 4 bulan, 1 tahunpun akan di relakan. Inilah tantangannya bagaimana membentuk fikir yang seperti ini kepada istri kita. Kita harus panda-pandai membawa istri kita ini di dalam usaha dakwah yang bermacam-macam karakter tentunya.

Insya Allah kita niat amalkan.

Disampaikan : Oleh Ust. Muslichuddin Syuro Indonesia

Tema : Usaha atas Masturoh
Sumber : https://buyaathaillah.wordpress.com/kehidupan-masturoh/

Bersambung KLIK untuk mendapatkan sambungannya

LABEL MASTUROH

kisah jamaah masturoh, muzakarah masturoh, tujuan masturoh dikeluarkan, hukum masturoh, masturoh photo, program masturoh, arti masturoh dalam islam

ARTIKEL TERKAIT

 

No comments:

Post a Comment