Post Top Ad

CARI DI BLOG INI

7.12.13

Bayan dan Pidato Masturoh jamaah 3 hari :

Bayan Masturoh ini kami ambil dari calon-mastroh.blogspot.com. Judul Pertamanya adalah Cintai Aku karena Allah. Semoga bermanfaat. Doakan Masturoh Ane bisa keluar / khuruj. Amin.


Ada orang-orang yang menghina Allah, dengan mengatakan Allah punya anak. Padahal, Allah adalah

ٱللهُ ٱلَّذِي لآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ، ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلاَمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَانَ ٱللهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci (lah) Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Jadi Allah Maha suci dari apa yang mereka tuduhkan. Orang-orang yang menghina Allah, dengan mengatakan Allah punya anak. Dengan mengatakan para Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah, bahkan hingga saat ini masih ada. Tapi, Allah tidak langsung binasakan mereka. Allah berikan mereka kesempatan.

Karena sifat rahman-Nya Allah terhadap umat Nabi Saw. Berbeda dengan kaum terdahulu, jika berbuat maksiat, maka ditimpakan Azab. Tapi, karena umat Nabi Saw, Allah tetap menunggu orang-orang yang maksiat, agar bertaubat. Orang yang belum beriman, agar mau mengakui keberadaan Allah. Keagungan Allah. Tentunya untuk mereka-mereka ada batasan waktu, yakni sampai ajal tiba.

Begitu juga, kepada kita. Allah cinta kepada kita, ia dudukkan kita di majelis yang mulia ini. Jika kepada mereka para penghina Allah saja, Allah Maha Pengasih. Masih Allah berikan rezeki. Maka kepada kita, bukan hanya dikasih, melainkan juga disayang Allah.

Tanda sayangnya Allah, maka Allah pilih, siapa-siapa yang mau mengikuti hidayah, Allah berikan, lalu Allah kehendaki kebaikan dengan hadirkan di suasana ini. Hadis riwayat Bukhari dari Muawiyah radhiallahu ‘anhu, yang mafhumnya, jika Allah kehendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Allah akan pahamkan dari sisi agama. Jadi, kita yang ada di sini, karena pilihan. Dipilih Allah, karena ada potensi untuk menjadi orang yang selalu memperbaiki diri. Karena Allah akan berikan kebaikan, berupa kepahaman terhadap agama.

***
Dalam catatan sejarah dakwah, kalangan perempuan malah lebih mudah mendapatkan hidayah. Ini terbukti pada zaman Nabi Saw, banyak pertentangan dari laki-laki, yang juga dari anggota keluarganya. Abu jahal, Abu Lahab dan beberapa orang laki-laki, malah banyak memusuhi Nabi. Sebaliknya, dari kalangan perempuan, dari bibi-bibi Nabi, malah banyak yang langsung mengikuti hidayah.

Ketika Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu masuk Islam, ia langsung ajak kedua orang tuanya. Ibunya langsung mau. Alasannya, waktu itu budaya jahiliyah suka mengubur anak perempuan. Ibunda juga hendak dikubur. Tapi Allah tolong. Kalaulah waktu itu sudah terkubur dalam tanah, maka tidak melahirkan anak hebat sekelas Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. Jadi ibunda Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu merasa, pancaran cahaya Islam, adalah pembebasan bagi perempuan yang tradisi menganggap perempuan adalah barang dagangan.

Biasa dijual. Biasa dipamerkan auratnya, hanya karena ingin dirayu laki-laki di jalan. Biasa dikubur hidup-hidup karena dianggap pembawa petaka bagi kehormatan kabilah. Dan kebiasaan buruk lainnya. Ibunda Zaid radhiallahu ‘anhu pilih memeluk Islam, sedangkan ayah Zaid radhiallahu ‘anhu, masih banyak pikir-pikir dahulu.

Ibunda Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bukan orang pertama, dari kalangan perempuan. Yang pertama, adalah Sayyidah Khadijah radhiallahu ‘anha. Saking hebatnya, Sayyidah Khadijah radhiallahu ‘anha langsung dukung semua upaya Nabi. Dakwah Nabi semakin pesat, karena semua harta, jiwa raga, diserahkan istrinya secara ikhlas, untuk perjuangan dakwah Nabi kita.

Inilah hebatnya jika perempuan dalam dakwah, dukungannya benar-benar nyata bagi rijal. Ahbab rijal yang istrinya sudah kenal dakwah, jika malas-malasan keluar, kaum masturah malah mengusirnya dari rumah, agar rijalnya mau berangkat. Begitu juga, perkataan Sayyidah Khadijah radhiallahu ‘anha yang terkenal itu. "Wahai suamiku, jika aku meninggal terlebih dahulu, galilah tulang-belulangku dan jadikan perahu. Supaya bisa Engkau berdakwah seberangi lautan, dari perahu yang terbuat dari tulangku ini." Ulama lain, katakan, "jika tulangku bisa kamu jual, maka jual saja untuk biaya dakwah".. Subhanallah… 

Allah Swt, muliakan wanita dengan Surat An-Nisa. Allah Swt juga muliakan kesabaran seorang wanita, dan mensucikannya, dengan menyebut nama Maryam binti Imran. Kalau nama kita, disebut-sebut orang terkenal, maka begitu bangganya. Begitu juga dengan Maryam binti Imran. Allah sendiri yang sebutkan namanya. Agar menjadi contoh bagi seluruh perempuan yang ada di jagat semesta ini.

Allah memang pilih, keluarga Imran sebagai generasi unggul. Seperti dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 22. Allah menyebut beberapa orang, sebagai generasi unggul. Generasi terbaik, dari yang lain. Keturunan ; Adam alaihissalam, Nuh alaihissalam, Ibrahim alaihissalam, dan termasuk keluarga Imran. Istrinya Imran, orang yang sangat shalihah. Ia menginginkan adanya anak keturunan, agar bisa khidmad untuk perjuangan agama. Allah terima niat baiknya. Hingga ia melahirkan anak perempuan, yang Allah berikan nama "Maryam." Jadi, Allah sendiri yang berikan nama. Dan Allah tentukan pengasuhnya, yakni Zakaria 'alaihissalam.

Begitu hebatnya, keyakinan yang dibangun oleh perempuan yang dinamakan Maryam itu. Ketika ditanyakan oleh Zakaria 'alaihissalam, sebagai pengasuh, dari mana rezeki ini? Maryam kecil menjawab,"ini dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa pun, tanpa hisab." Maksudnya, tanpa pandang bulu, siapa pun diberikan, sesuai dengan kemauan Allah.

***
Maksud dalam rangka keluar 3 hari masturah, adalah memperbaiki keyakinan tauhid kita. Menjadikan Allah selalu hadir dalam hati-hati kita. Yang tentunya perlunya ada perbaikan niat. Niatnya diluruskan terlebih dahulu. Hadir, dengarkan bayan di tempat ini, bukan karena makhluk. Juga bukan karena makanan, minuman, atau niat lain yang bersifat kebendaan. Niatnya hanya untuk islah. Untuk perbaikan diri kita sendiri. Niat ikut keluar, hanya karena Allah.

Seperti istri Imran, yang punya niat baik. Allah terima langsung dengan,"fataqqabbalaha robbuha, biqobulin hasanin." Allah terima niat baik perempuan ini. Allah kabulkan dengan penerimaan yang baik. Yakni menjadikan anak sebagai Maryam. Allah juga berikan keberkahan, dengan punya cucu sebagai nabi. Yakni Nabi Isa 'alaihissalam.

Niat baik ini tidak perlu dikabarkan kepada orang lain. Cukup diri kita dan Allah saja yang tahu. Karena niat baik, akan menumbuhkan kebaikan yang lain. Walau pun dengan prilaku yang sederhana. Prilaku yang remeh-temeh. Kalau Allah cinta, Allah sukai, maka terserah Allah saja yang membalas , sehebat apa pun balasannya.

Dahulu ada kisah seorang perempuan yang sederhana. Ia bukan kalangan bangsawan, bukan kalangan yang dihormati kabilah-kabilah Arab. Gadis ini, gadis lugu. Tapi karena keimanan dan keyakinan pada Allah, sudah benar, sudah meresap dalam hati, maka sikapnya juga menjadi baik. 

Seorang gadis miskin, di tengah malam mendebat ibunya, “Jangan. Wahai ibunda… Khalifah Umar mungkin tidak tahu, tapi Allah Swt selalu melihat kecurangan kita.” Siapa sangka Umar bin Khattab radhiallahu‘anhu ternyata ada di depan rumah itu, mendengarkan percakapan mereka berdua. Kejujuran gadis itu membuat khalifah terharu. Sambil kembali pulang ke rumah, tidak henti-hentinya air mata Umar membasahi jalan-jalan malamnya.

Esok harinya, ia meminta Ashim radhiallahu ‘anhu, putra Umar radhiallahu ‘anhu untuk melamar gadis itu. Ashim radhiallahu ‘anhu putra khalifah yakin dengan apa yang didengar dari suara hati ayahnya. Ia percaya dengan gadis jujur penjual susu yang enggan mencampur susu dengan air gula, akan selalu membawa kebaikan dari pilihan ayah tercintanya.

Dari hasil pernikahan mereka berdua, Allah Swt memberi seorang anak perempuan yang mereka namakan Laila. Cucu perempuan khalifah ini, orang banyak memanggilnya dengan sebutan Ummu Ashim. Laila tumbuh sebagai gadis yang mewarisi kebaikan ibunya. Ia dilamar oleh Abdul Aziz bin Marwan. Mereka pindah ke Mesir, karena bertugas di sana. Abdul Aziz bin Marwan menjadi gubernur Mesir semasa pemerintahan Bani Umayyah.

Darah biru belum terhenti di sana. Allah Swt memberikan seorang putra dari keberkahan mereka berdua yang dinamakan Umar. Dia lah Umar bin Abdul Aziz rahmatullah 'alaihi. Seorang Anak gubernur yang mewarisi jiwa kepemimpinan leluhurnya. Di usia 30-an, Umar bin Abdul Aziz rahmatullah 'alaihi menjadi gubernur berbagai wilayah. Kufah, Mekkah, Madinah, Hijaz sekaligus Thaif dan sekitarnya.

Jadi, hanya karena gadis jujur tadi. Allah suka sikapnya, Allah balas kebaikan, hingga dilamar putra khalifat Umar radhiallahu 'anhu. Juga punya keturunan menjadi khalifah Umar bin Aziz rahmatullah 'alahi. Perempuan yang sederhana, mirip dengan istri dari Imran tadi. Walau nama jelasnya tidak disebut, tapi amal baiknya abadi dalam Qur'an. Dibaca seluruh umat manusia, hingga hari kiamat. 

Sekali lagi, jika kita niat, semata-mata karena Allah. Akan ada keberkahan. Nantinya, dari niat kita yang diterima, bukan hanya untuk kita saja. Keberkahan akan berbuah manis hingga anak-cucu kita nanti, hingga beberapa generasi. Bahkan ke seluruh alam. Amiienn…Amieenn Ya Rabbal 'Alamiinn…

***
Selain niat untuk semata-mata islah diri, yang kedua adalah niat untuk mendukung suami dan anak dalam dakwah. Karena kalau suami semangat, sekalipun istrinya tidak ikut berangkat,  istrinya akan tetap mendapat pahala. Keberkahan akan merata di dalam rumah. Anak-anak lebih mudah menjadi soleh-solehah. Ini berkat dari pengorbanan seorang perempuan karena ketabahan dan kesabarannya.

Para Nabi yang istrinya mendukung dakwah, maka dakwahnya akan lebih sukses. Selain Baginda Nabi Saw, misalnya istri Nabi Ibrahim 'alaihissalam, dan Istri Nabi Musa 'alaihissalam. Mereka lebih sukses dari yang lain. Begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu wa karramallahu wajhahu. Kesuksesan beliau, karena peran baik langsung, atau tidak langsung, dari istrinya. Fatimah radhiallahu 'anha.

Fatimah radhiallahu 'anha menjadi penghulu perempuan di surga. Hadis riwayat Tirmidzi dari Ummu salamah, Istri Nabi Saw, berkata yang singkatnya : "Surga bagi perempuan tidak boleh dimasuki, sebelum langkah kaki Maryam binti Imran dan Fatimah radhiallahu 'anha ada di tempat itu. Beliau bisa menjadi sebegitu hebat, bukan karena nepotisme Nabi. Bukan karena ayahnya Rasulallah, sehingga anaknya otomatis bisa punya derajat begitu tinggi. Penghargaan ini, karena upaya Fatimah radhiallahu 'anha sendiri.

Putri Nabi ini, juga putri Raja Yastrib. Raja di Madinah. Tapi beliau, tidak dibela Nabi, kalau Fatimah radhiallahu 'anha berbuat salah. Nabi katakan, "law anna fatimata binti muhammadan saraqot, la qhoto'tu yadaha."  (seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku—ucap Rasul—sendiri yang memotong tangan anak perempuannya).

Manakala Nabi akan menghembuskan ajal, Fatimah radhiallahu 'anha ada di rumah itu. Nabi katakan, bukakan pintu, ada yang mengetuknya. Putri Nabi ini membuka pintu, namun tak ada orang. Kata Baginda Rasul, tamunya sudah di dalam sini semua. Fatimah radhiallahu 'anha terkejut.

Lalu, orang yang mulia itu, Rasulallah Saw, mengisyaratkan kalau ini waktunya. Penghulu perempuan surga itu menangis. Ia teringat kata-kata yang ayahnya bisikkan, saat Fathu Makkah. Kalau Baginda Rasul, ayahnya itu, sebentar lagi akan meninggal. Perasaan yang sama. Bisikan yang sama, saat ini didengar Putri Nabi tercinta. Sambil sesenggukan, wanita itu berusaha memadamkan geloranya. Kata Rasulallah pada putrinya, yang intinya beliau katakan "Wahai Fatimah… tiap maut ada sekaratnya." Belum berhenti air mata Fatimah, perempuan salehah itu terus menangis. Tapi Baginda Nabi khawatir dengan umatnya. Lalu masalah perempuan. Maksudnya hak-hak perempuan harus dijaga. Dilindungi. Lalu, masalah pentingnya shalat. Fatimah radhiallahu 'anha, dan Para Malaikat berkabung. Seluruh alam semesta turut menangis.
Rasa sakit itu kian memuncak. Sekujur tubuh Nabi menggigil. Wajah beliau semakin memucat, urat-uratnya menegang. Dalam keadaan sakit tak tertahankan itu beliau berdoa, “Ya Allah, alangkah sakitnya! Ya Allah, timpakanlah sakitnya maut ini hanya kepadaku, jangan kepada umatku.”

Cintanya beliau pada umat ini. Kepada kita. Ummat Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam. Begitu besar. Hingga ia memohon, agar tiada satu pun dari umatnya tidak merasakan sakitnya sakaratul maut. Cukup dirinya saja. Adakah di antara, yang begitu mencintai Rasulallah, hingga menjelang ajal juga masih memikirkan Baginda Rasul, sebagaimana Baginda Rasul yang selalu memikirkan umatnya dalam keadaan begitu.

Mendengar tangis putri kesayangannya itu masih belum berhenti, Rasulullah SAW sempat mengisyaratkan agar Putrinya mendekat. Perempuan sholehah itu, akhirnya menempelkan telinga ke wajah ayahnya.  “Bersabarlah anakku sayang. Tidak ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini…”  Nabi SAW berusaha menghibur putrinya lagi. "Setelahku.. engkau yang menyusulku terlebih dahulu." Seketika itu juga, Fatimah  gembira. Ia tersenyum lebar. Dari bibir ayahnya sendiri, Fatimah dikabarkan juga akan segera meninggal dunia. Menyusul kepergian Nabi Saw.

Alangkah mulianya amalan perempuan ini. Dikabarkan akan meninggal, justru sangat senang. Karena bisa yang pertama menyusul. Sangat berbeda jauh dengan perempuan-perempuan kita, yang sangat benci kematian. Juga membenci kemiskinan. Pangkat, yang akan disandang, sebagai perempuan penghulu surga, terbersit dalam hasratnya. Dan wanita shalehah itu, istri Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu lupa diri dalam senyumnya. Ia lupa sesaat kalau ayahnya, suri tauladannya, masih terbaring di depan mata. Sudah tak bernyawa lagi.

Benarlah apa yang dikatakan Rasul. Fatimah yang akan menyusul, lalu Sayyidah Zainab binti Jahsy, istri rasul yang panjang tangan, rajin sedekah, menjadi orang-orang yang meninggal setelah kepergian Baginda Nabi.

Fatimah meninggal dunia di usia 28 tahun, 6 bulan setelah kematian Nabi saw. Merasa ajalnya sudah dekat, Fatimah radhiallahu 'anha membersihkan dirinya, memakai pakaian yang terbaik, memakai wewangian, dan berwasiat kepada Iparnya, Asma bin Abi Thalib radhiallahu 'anha : “hanya suamiku, yang boleh menyentuh tubuhku.” Mengenai kematian putri kesayangan Nabi ini, banyak sekali tertulis kisah-kisah yang menyedihkan. Fatimah radhiallahu 'anha memang wafat di usianya yang masih sangat muda. Terlepas dari cerita penganiayaan itu, ada cerita menarik menjelang wafatnya Fatimah radhiallahu 'anha. Sebelum membersihkan diri dan bersiap menghadap Allah swt, ketika Fatimah radhiallahu 'anha merasa ajalnya sudah dekat, dia memandikan dua putra nya (Hasan dan Husein radhiallahu 'anhuma) dan menyuruhnya pergi ke masjid. Menyusul Ayah mereka untuk sholat. Setelah pulang dari masjid 'Asma menemani dua putra Fatimah radhiallahu 'anha itu makan, dan bertanyalah mereka kepada 'Asma binti Abi Thalib rahdiallahu 'anhuma. “dimana ibu kami? Belum pernah kami makan tanpa ditemani ibu kami”. Fatimah radhiallahu 'anha meninggal dengan keadaan sujud menghadap kiblat. Anak-anak Fatimah menyaksikan ibunya dalam keadaan demikian mulia.

***
Hari ini. Anak-anak perempuan kita, diberi nama Fatimah. Dengan harapan seperti Fatimah radhiallahu 'anha binti Muhammad Rasulallah Saw. Tetapi, nama anak-anak perempuan kita sangat jauh berbeda dengan putri Rasul. Astagfirullah…

Anak-anak perempuan kesayangan kita, jauh dari sifat-sifat yang dimiliki anak-anak perempuan Nabi. Ini karena salah kita. Kita yang enggan memberi izin kepada ayahnya, untuk tinggalkan rumah berangkat dakwah. Kita malu, kalau suami kita digunjing orang, karena ikuti sunnah. Selamatkan agama yang hampir punah. Kita berat, saat suami tidak ada di sisi, padahal beliau sedang islah diri, berpisah sebentar demi agama.

Jadi saat ini. Hari ini kita niat, untuk dukung perjuangan dakwah suami dan anak kita. Karena mereka pergi dakwah, karena cinta kepada keluarga yang besar. Mereka berpisah, karena tidak ingin diri kita dan anak-anak kita terbakar di Neraka. Karena para suami ingin, agar anak-istrinya menjaga perintah shalat.  Perginya mereka keluar di jalan allah, sama seperti mereka pergi untuk menjemput nafkah yang Allah sudah sediakan. Mereka korbankan waktu, tenaga, pikiran, pisah dengan keluarga, demi berusaha agar menjadi lelaki yang sholeh. Menjadi suami yang soleh. Menjadi ayah yang soleh, bagi anak-anak kita.

Marilah. Pada kesempatan hari-hari ini. Kesempatan yang bulan depan, yang tahun depan, belum tentu bisa kita keluar 3 hari masturah. Kita, manfaatkan baik-baik. Ikuti tertib 72 jam. Patuhi adab-adab dan sunnah Nabi. Taat pada amir. Jadikan Allah sebagai penolong kita. Jadikan Allah sebagai tempat mengadu. Biarkan suami, matikan handphone-nya. Matikan alat komunikasi sebentar. Hanya untuk 3 hari saja. Agar kita bisa menjadi Fathimah yang sesungguhnya. Menjadi Maryam yang seperti Maryam binti Imran. Agar umat Nabi Muhammad hingga manusia terakhir lahir di dunia ini, kenal adab. Kenal agama. Mau taat pada perintah-perintah Allah.. 

Subhanallah wa bihamdihi, Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadu Allaailaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik           

No comments:

Post a Comment

Extra Ads