Jenis Dakwah Jamaah Tabligh - MEDSOS

STAY WITH US

Hot

Post Top Ad

11.11.15

Jenis Dakwah Jamaah Tabligh

Jama’ah Tabligh dalam melakukan dakwahnya mempunyai cara tersendiri yang tidak sama dengan gerakan dakwah yang berada di Indonesia pada umumnya yang dilakukan seperti NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, LDII dan lain-lainnya.


Daftar Artikel Bahas Jamaah Tabligh

Jamaah Masturoh atau Perempuan di Jamaah Tabligh
27 Amalan Sunnah Rasulullah yang HANYA Masih Mampu Diamalkan Jamaah Tabligh
Maqami Masturoh dan Tugas Jamaah Tabligh Wanita di Rumah
Jenis Dakwah Jamaah Tabligh Jamaah Tabligh
Kontroversi Jamaah Tabligh
Kitab Rujukan Jamaah Tabligh   
Ulama Terkenal di Jamaah Tabligh   
Sejarah dan Tertib Jamaah Tabligh
Jamaah Tabligh dan Curhat Perubahan   
Dakwah Perempuan, Catatan Jamaah Masturoh Khuruj 3 Hari
Kamus Dakwah Jamaah Tabligh A - Z
Jamaah Tabligh di Pandangan Iblis (1)

Mereka melakukan dakwahnya dengan cara berkeliling dari masjid ke masjid. Jama’ah Tabligh menganggap bahwa dari Masjidlah dakwah Islam pertama kali disebar oleh Nabi Muhammad SAW.

Keberadaan Masjid begitu signifikan pada masa awal perkembangan Islam. Masjid juga mempunyai tempat yang strategis untuk menyampaikan dakwah. Pada masa Nabi SAW menyebarkan Islam, Masjid benar-benar berperan secara multifungsi, yaitu sebagai tempat sembahyang, musyawarah, pengajian, tempat mengatur siasat perang dan mengurusi masalah politik, sosial dan ekonomi umat. Karena itulah Jama’ah ini menggunakan masjid sebagai tempat mereka melakukan kegiatan dakwah yang berbeda dengan yang dilakukan organisasi Islam lainnya.

Dalam istilah Drs. Abdul Jalil, M.Pd. Jama’ah Tabligh disebut sebagai dakwah yang fenomenal.Yaitu suatu bentuk dakwah yang dirancang secara faktual (sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyrakat). Cara atau model dakwah Jama’ah Tabligh ini dibuat berbeda agar menarik perhatian masyarakat.

Kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh biasanya dilakukan dengan dakwah bi al hal bi al lisan. Dalam mengaplikasikan dakwah tersebut Jama’ah Tabligh membentuk beberapa model dakwah yang terdiri dari khūruj fī sabīlillāh, Jama’ah jaulah, dan menjadikan masjid sebagai amal maqami basis tempat pergerakan dakwah-dakwah tersebut. Istilah-istilah tersebut dengan adanya model-model dakwah Jama’ah Tabligh dapat dijelaskan sebagi berikut :

Khūruj fī sabīlillāh


Khūruj fī sabīlillāh adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah, yang biasanya dari masjid ke masjid dan dipimpin oleh seorang Amir. Ketika keluar seorang Karkun (orang yang keluar) tidak boleh memikirkan keluarga, harta benda itu semuanya harus di tinggalkan dan pergi untuk memikirkan agama.

Menurut KH. Uzairon selaku pimpinan pondok pesantren al-Fattah yang notabene ialah amir Jama’ah Tabligh di daerah Jawa Timur pernah mengatakan kepada jama’ahnya didalam salah satu khutbahnya betapa pentingnya khūruj fī sabīlillāh berkaitan tentang Tasykil atau tawaran untuk khūruj secara berombongan. Beliau berkata bahwa disaat pendakwah pergi meninggalkan rumah mereka ada 75 malaikat yang akan menjaga anak, istri dan keluarganya.

Orang yang khūruj tidak boleh meninggalkan masjid tanpa seizin Amir. Khūruj yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh yang dilakukan dengan cara berkelompok dan mencari masjid atau mushalla-mushalla sebagai tempat tinggal mereka dan sebagai tempat pusat komando dakwahnya. Khūruj ini dilakukan agar masyarakat terangsang agar mau menghidupkan masjid dan mushalla mereka. Khūruj ini biasanya terdiri dari 3 orang dan maksimal 10 orang yang di komandoi oleh salah satu diantara mereka.

Seruan Jama’ah Tabligh dilakukan kepada semua orang yang berada di sekitar masjid atau mushalla yang mereka tempati. Mereka melakukannya dengan cara-cara mereka sendiri tanpa ditentukan oleh pimpinan pusat Jama’ah Tabligh. Adapun ketentuan-ketentuan mengikutikhūruj fī sabīlillāh anggota Jama’ah Tabligh harus mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut:

a. Setiap anggota dalam setiap hari harus khūruj fī sabīlillāh selama 2,5 jam setiap hari
b. Dalam seminggu harus mengikuti khūruj selama sehari
c. Setiap bulan minimal 3 hari
d. Setiap setahun minimal 40 hari
e. Seumur hidup minimal 1 tahun

Dengan demikian mereka harus mempunyai progam atau jadwal untuk melakukan khūruj  atau keluar dijalan Allah. Khūruj ini dilakukan dengan tujuan membangun ahklak yang mulia dan berbudi luhur dan selanjutnya mereka dapat berdakwah kepada orang lain yang ada di sekitar mereka sendiri. Selain itu khūruj bertujuan menghidupkan masjid-masjid dan mushalla, selain itu masyarakat senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah yang wajib maupun yang sunnah, meluruskan keyakinama yang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya. Sebelum berangkat khūruj terdapat pembekalan yang dilakukan oleh pimpinannya, antara lain:

Bayan Hidayah

Bayan hidayah adalah bayan yang dilakukan ketika sebelum pemberangkatan jamaah ke tempat pengiriman da’i. Supanya da’i faham dan mengerti apa saja yang harus dilakukan ketika sampai tujuan. Dan biasanya juga bayan hidayah ini berupa motivasi–motivasi penyemangat untuk berdakwah agar khūruj yang dilaksanakan berjalan dengan lancar dan semangat dari dalam hati.

Musyawarah

Musyawarah di sini adalah musyawarah tentang keperluan apa-apa yang perlu di persiapkan dalam khūruj fī sabīlillāh, dan  mudzakarah tentang adab-adab syafar.

Bayan Wabsi

Bayan wabsi adalah bayan yang dilakukan setelah pulang dari jihad atau pulang dari berdakwah. Atau laporan yang di berikan oleh karkun kepada penggurus markas. Adapun yang dilaporkan adalah tentang kondisi tempat yang telah di tuju, kondisi karkun yang ada, agenda yang telah dilakukan selama bepergian di jalan Allah dan jamaah di minta untuk bermusyawarah terkait rancangan waktu pergi untuk khuruj lagi.

Bayan Karghozari

Bayan ini dilakukan setelah kembali dari khūruj, mereka para jama’ah dianjurkan untuk melaporkan kondisi Islam di daerah yang telah di singgahi selama dalam berdakwah dan para jamaah mendapatkan beberapa nasehat-nasehat atau amalan-amalan yang harus di jaga ketika di dalam rumah.

Jaulah


Jaulah dalam bahasa arab berarti berkeliling. Jaulah merupakan suatu poros atau sebuah tulang punggung dakwah, dan dakwah adalah tulang punggung agama. Jaulah ibarat menebar benih-benih hidayah kepada hati manusia. Jaulah dapat juga diartiakankegiatan yang dilakukan secara berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengajak umat Islam salât di mesjid sekaligus untuk mendengarkan bayan atau ceramah agama yang disampaikan setelah salât fardhu.

Silaturahmi atau yang sering disebut dengan jaulah yang dilakasnakan oleh Jama’ah Tabligh dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang berada di dalam masjid. Mereka di dalam masjid diibaratkan sebagai penyambung hidayah-hidayah Allah kepada masyarakat sekitar. Biasanya mereka melakukan berbagai hal yang berkenaan dengan berdzikir, menyebut asma Allah dengan penuh kekhusu’an dan berdoa sampai kelmpok yang lain kembali ke masjid.

Sedangkan kelompok yang kedua keluar masjid untuk berdakwah menunjukan jalan yang di ridhoi oleh Allah dan berdzikir menyebut asma Allah dalam hati. Mereka melakukannya penuh dengan keikhlasan yang sangat-sangat mendalam.

Jama’ah Tabligh dalam melaksanakan dakwahnya mempunyai beberapa pendekatan terhadap orang-orang tertentu. Pendekatan itu biasanya dilakukan kepada:

Ulama


Jama’ah Tabligh biasanya pertama kali yang akan mereka datangi ketika melakukan dakwahnya adalah ulama. Mereka menganggap, bahwa ulama adalah seorang yang harus di datangi dan dimintai do’a agar mereka mendapatkan barokah dari sang ulama tersebut. Jama’ah Tabligh ketika berdakwah juga tidak mau mempengaruhi ulam agar masuk ke dalam rombongan dakwahnya.

Mereka melaksanakan apa yang telah mereka pelajari dari sang amir, sehingga ulama tersebut dengan sendirinya akan masuk dan tertarik pada Jama’ah Tabligh yang sedang berdakah tersebut. Apabila sudah tertarik maka baru kita jelaskan tentang hakekat usaha dakwah ini.

Umaro’

Menghadap bukan hanya sekedar pemberitahuan atau setor identitas akan tetapi juga kita jelaskan tentang pentingnya usaha dakwah dihidupkan di tengah-tengah masyarakat.

Karkun atau Da’i

Karkun atau da’i adalah seseorang yang pernah bergabung dengan usaha dakwah jamaah tablig atau pernah khūruj fī sabīlillāh. Mereka melakukan pendekatan terhadap karkun atau da’i dengan menghargai semua pengorbanannya.

Karena mereka mau mengorbankan harta bendanya dan meluangkan waktu untuk berdakwah.mereka juga tidak memaksa terhadap karkun untuk ikut dengan mereka, akan tetapi cukup dengan mendo’akannya.

Orang Yang Belum Shalat

Orang yang sebelum shalat tidak akan diajak shalat terlebih dahulu. Biasanya seandainya diajak shalat mereka akan menolak, akan tetapi mereka diajak untuk belajar atau taklim. Kalau mereka sudah belajar pasti mereka suatu saat akan melaksanakan shalat dengan sendirinya.

Anak Yang Belum Baligh

Pendekatan terhadap anak yang belum baligh adalah hal yang termudah diantara yang lain, karena anak yang belum baligh cukup diajak mengaji saja.

Pemuda atau Pelajar

Pendekatan yang dilakukan terhadap pemuda atau pelajar ialah dengan cara mencari tahu siapa yang menanggung biayanya. Selain itu pemuda ini akan diajak ke masjid seandainya tidak mau akan diajak ke rumahnya dan seandainya tidak mau juga maka akan diantar ke tempat nongkrongnya.

Fuqara’ atau Masakin

Fuqara’ atau Masakin akan diberikan tentang pentingnya iman, islam. Para pendakwah ini juga akan menceritakan tentang kisah-kisah Nabi dan Rasul. Mereka juga akan menyantuni para fuqara’ dan masakin setiap minggunya dan setiap bulannya.

Selain khūruj fī sabīlillāh dan Jaulah Jama’ah Tabligh juga mengadakan malam Ijtima’  yang diadakan satu tahun sekali di markas pusat nasional. Biasanya malam Ijtimā’ dihadiri oleh karkun yang ada di seluruh pelosok Indonesia.

Malam Ijtimā’ biasanya di isi dengan bayan (ceramah agama) yang pembicaranya adalah ulama, kiai, dan tamu dari luar negeri. Selain itu para Karkun tersebut juga ditawari khūruj ke luar negeri bagi yang mampu. Dalam hal ini mereka disuruh ke India, Pakistan, dan Bangladesh untuk mempertebal keimanan mereka.

No comments:

Post a Comment